Tampilkan postingan dengan label Budaya dan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya dan Sastra. Tampilkan semua postingan

28 November 2014

Menjadi Hamba Allah yang Rahman

Sesungguhnya Allah Ta’ala memuliakan hamba-hamba-Nya yang baik peribadatannya kepada-Nya. Para hamba tersebut menyempurnakan taqarrub kepada Allah dengan memperbagus amalan ketaatan mereka. Allah Jalla wa ‘Ala pun senantiasa melipat-gandakan kemuliaan untuk mereka, mengangkat kedudukan mereka, kemudian memuji mereka dengan menjelaskan kedudukannya yang dekat di sisi-Nya. Tentang mereka Allah jelaskan dalam sebuah ayat yang agung di akhir surat Al-Furqan. Dia namai para hamba tersebut dengan sebutan “Ibadurrahman (عِبَادُ الرَّحْمَنِ)”. Setelah menyebutkan nama mereka, Allah pun menyebutkan sifat-sifat mereka yang indah dan akhlak mereka yang mulia. Lalu Allah Tabaraka wa Ta’ala janjikan kepada mereka balasan yang agung dan tempat yang terhormat.

Sifat-sifat mereka disebutkan dalam 8 redaksi dengan redaksi yang penuh keberkahan. Seorang mukmin hendaknya merenungi sifat-sifat yang agung ini dan menjadikannya pembelajaran serta percontohan untuk diri mereka. Apabila setelah membaca sifat-sifat tersebut mereka merasa bahwa diri mereka penuh kekurangan dan suka menyia-nyiakan ketaatan, hendaknya ia bersegera menyempurnakan kekurangan dirinya sebelum datang ajal menjemputnya.


Pertama: Sifat pertama yang Allah Jalla wa ‘Ala sebutkan adalah mereka orang yang tenang dan merendahkan diri kepada Allah, mereka tidak peduli dengan orang-orang yang mencela ketaatan mereka, dan membantahnya dengan cara yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63).

Kedua: Allah juga menyebutkan di antara sifat mereka adalah menaruh perhatian terhadap shalat malam dan mengerjakannya dengan penuh keikhlasan, ketundukan, dan kekhusyuan. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا

“Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 64).

Ketiga: Sifat mereka yang lainnya, yang disebutkan oleh Allah Ta’ala adalah mereka sangat takut terhadap neraka, padahal mereka memiliki amalan yang agung dan sifat-sifat yang terpuji. Mereka takut dari adzab Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, mereka berdoa dengan sepenuh pengharapan agar dijauhkan dari neraka dan berusaha menjauhkan diri sebab-sebab yang bisa menghantarkan ke neraka. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا (65) إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا (66)

Dan orang-orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal”. Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqan: 65-66).

Keempat: Mereka juga adalah orang yang senantiasa berinfak, baik yang wajib maupun yang Sunnah. Berinfak dengan tidak berlebihan hingga menyusahkan diri mereka, juga tidak pelit karena terlalu sedikit. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَلِكَ قَوَامًا

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67).

Kelima: Setelah itu, Allah mengabarkan bahwa mereka juga adalah orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar. Khususnya dosa syirik, membunuh, dan zina. Karena tiga perbuatan ini adalah dosa yang terbesar dan termasuk hal-hal yang membinasakan. Dengan rasa takut dan rajinnya mereka melakukan ketaatn, mereka juga memiliki sifat bersegera dan senantiasa bertaubat kepada Allah ketika melakukan dosa. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (68) يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (69) إِلَّا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (70) وَمَنْ تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا (71)

“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya.” (QS. Al-Furqan: 68-71).

Keenam: Allah Jalla wa ‘Ala menyebutkan mereka adalah orang yang jauh dari majlis-majlis yang mungkar, yang melalaikan, batil, dan sesat. Apabila mereka melewati majlis-majlis demikian, mereka tidak memperdulikannya karena mereka memuliakan diri mereka sendiri. Mereka mensucikan diri mereka dari majlis-majlis yang sia-sia dan jelek. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS. Al-Furqan: 72).

Ketujuh: Mereka juga adalah orang-orang yang mengagungkan ayat-ayat Allah dan tidak pernah menentang atau membantah ayat-ayat tersebut, bahkan mereka adalah orang yang mengimaninya dengan cara yang baik. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا

“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menghadapinya sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73).

Kedelapan: Mereka adalah orang-orang yang menghadapkan diri kepada Allah dengan cara yang terbaik dan menyempurnakan doa. Mereka memuliakan diri mereka sendiri, keluarga, dan keturunan mereka dengan cara memohonkan kebaikan di dunia dan akhirat untuk mereka semua. Allah Ta’ala berfirman,

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqan 74).

Kemudian Allah Jalla wa ‘Ala tutup rangkain sifat-sifat mereka dengan menjanjikan derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia di hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman,

أُولَئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا}أي الجنة{ تَحِيَّةً وَسَلَامًا

“Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75).

Para malaikat menyambut mereka dengan sambutan yang mulia. Tempat mereka di surga yang penuh dengan keselamatan dan kesempurnaan.

Alangkah agungnya dan mulianya sifat-sifat mereka. Hendaknya setiap muslim bersemangat untuk mengoreksi diri mereka dan terus memperbaiki amalan mereka sesuai dengan penjelasan yang telah Allah jelaskan di dalam ayat-ayat surat Al-Furqan.

Koreksilah diri kita dengan koreksi yang penuh ketelitian. Kemudian bersungguh-sungguhlah dalam menjauhi perbuatan jelek dengan meminta tolong kepada Allah. Sesungguhnya taufik berada di tangan-Nya dan tiada sekutu bagi-Nya.[]

17 Oktober 2014

Kemanakah Kita Akan Pergi?

Persimpangan Jalan
Dalam kitab suci kita, Al-Qur’an terdapat satu ayat yang sangat singkat namun sangat penuh dengan makna, sebuah ayat yang meramu dua kehidupan nyata kita, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, ayat itu adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ


“Maka kemanakah kamu akan pergi?” (Qs. Takwir: 26)

Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa hidup adalah pilihan, Allah swt dengan hikmahnya telah memberikan banyak jalan (suluk) di dunia ini untuk dipilih oleh manusia, ibarat seseorang yang ingin menuju suatu tempat sementara di hadapannya ada berbagai jalan yang ia akan tempuh, maka Allah swt berfirman:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ


“Maka kemanakah kamu akan pergi?”

Imam Al-Alusi juga menerangkan bahwa pertanyaan Allah ini sebagai “Amrul Qur’anil Adhim” atau sebagai permasalahan yang sangat agung yang terdapat dalam Al-Qur’an, betapa tidak, inilah pertanyaan Allah swt yang singkat setelah menerangkan dan menjelaskan dalam ayat-ayat yang lain berbagai jalan-jalan yang terdapat di kehidupan kita.

Kitalah yang akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh dan kita lalui, apakah kita akan memilih jalan diberikan oleh Allah swt nikmat yang besar, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

صراط الذین انعمت علیهم

Ataukah kita akan mengikuti jalan yang dimurkai oleh Allah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

غير المغضوب عليهم و لا الضآلین

Karena itulah Imam Az-Zujaj dalam Al-Lubab mengenai ayat ini pernah berkata:

أي طريق تسلكون أبين من هذه الطريقة التي بيَّنت لكم

“Maksud ayat ini adalah jalan mana yang akan kita tempuh dari sekian banyaknya jalan yang telah Allah jelaskan kepada kita”

Setelah kita merenungi ayat ini, maka tugas kita selanjutnya adalah menemukan jalan mana yang Allah swt terangkan dalam ayat-ayatNya untuk kita lalui di dunia ini. Ketika Allah swt bertanya tentu Allah telah menerangkan sebelumnya ada berapa banyak jalan yang terdapat di hadapan manusia.
Diantara Jawaban itu terdapat dalam surat Ali Imran ayat 51 yang berbunyi:

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ

“Sesungguhnya Allah itu adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembah dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya inilah jalan yang lurus” (Qs. Ali Imran: 51)

Ada beberapa catatan yang terdapat dalam ayat ini, pertama adalah bentuk penegasan bahwa hanyalah Allah swt sebagai Tuhan di alam semesta ini,

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat ini adalah bentuk “I’tiraf” atau bentuk pengakuan, dengan kata lain apapun latar belakang seseorang, standar kebenaran di alam semesta ini adalah jika seseorang itu memilih jalan yang mengakui keesaan Allah swt sebagai Tuhan.

Catatan kedua dari ayat ini adalah dimensi sosial dimana sangat ditekankan sikap kebersamaan dan kekeluargaan dalam keta’atan kepada Allah swt dalam Islam, karena Allah menyebutkan ayat ini dengan dhamir mutakallim wahdah dan Dhamir Jama’ mukhotob, artinya bentuk pengakuan yang terkait diri sendiri, namun tidak cukup dengan itu tapi juga terkait dengan orang banyak baik laki-laki maupun perempuan.

Kebersamaan inilah yang sangat ditekankan dalam Islam, Islam tidak ingin kita sendirian dalam kebenaran, karena Islam adalah agama yang universal, rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi alam semesta, karena itulah ketika Allah swt berfirman:

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ

Maksudnya adalah Islam menginginkan semua manusia bersama-sama berada pada jalan yang lurus

Namun dalam berbagai keadaan, terkadang kita keliru untuk menerapkan kebersamaan dalam kebenaran, sebagian kita malah bergunjing atas kesalahan orang lain, sebagian kita malah berdebat dengan orang lain yang justru menjauhkan dari kebenaran itu, sebagian kita ada yang memaksa orang lain dengan kebenaran yang ada pada kita, bahkan sebagian dari kaum muslimin rela membunuh saudaranya dengan sadis karena tidak mau mengikuti kebersamaan dalam kebenaran yang ia miliki.
Apakah ini adalah cara yang dibenarkan dalam Islam? Bagaimana Islam mengajarkan cara mengajak kepada kebersamaan dalam kebenaran?

Dialog yang baik, santun dan saling menjaga antara satu sama lain adalah kunci yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita dalam mengajarkan kebenaran dalam kebersamaan, Rasulullah tidak pernah mengajarkan cara-cara kekerasan dalam mengajak kepada kebenaran, karena cara-cara kekerasan malah bukan saja menjauhkan seseorang kepada kebenaran, bahkan bisa membuat seseorang benci kepada kebenaran.

Kita dapat melihat misalnya dalam Al-Qur’an disebutkan bagaimana Rasulullah berdialog dengan orang-orang musyrikin mekah, kita bersama tahu, bahwa orang-orang musyrik adalah orang-orang yang menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan mereka, yang dalam Islam tidak ada dosa yang paling besar selain dari menyekutukan Allah dengan berhala, namun bagaimana sikap Rasulullah di akhir dari perdebatan dengan mereka, Rasulullah tidak secara langsung mendakwa bahwa mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata, walaupun kebenaran berada pada pihak Rasulullah, namun dengan santun beliau berkata sebagaimana firman Allah:

وَ إِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلى هُدىً أَوْ في ضَلالٍ مُبينٍ.

"…Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Saba' [34]: 24).

Mengapa ini beliau lakukan? Tidak lain karena potensi hidayah ada pada setiap orang, dan kita hanyalah berkewajiban sebagai penyampai kebenaran kepada mereka secara wajar, Inilah akhlak Rasulullah yang patut kita tiru, Akhlak Rasulullah yang menjadi teladan bagi kita semua, karena Allah swt memang berfirman:

لَقَدْ كانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثيراً

Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Qs. Al-Ahzab 21).

Jika demikian akhlak yang diajarkan Rasulullah saw, maka bagaimana kita dapat membenarkan tindakan sebagian orang yang mengatasnamakan Islam memaksakan kebenaran Islam kepada orang lain dengan cara-cara kekerasan?. Wallahu’alam.[]

19 September 2014

Sumber Ketenangan dalam Hidup

Ketenangan
Dalam Al-Qur’an terdapat satu ayat yang termasuk sangat menyentuh untuk kita renungkan dan hayati, sebuah ayat yang singkat namun sangat sarat dengan makna, sebuah ayat yang merangkum dua kehidupan nyata manusia, yaitu kehidupan dunia yang sedang kita jalani dan kehidupan akhirat yang akan kita lalui, ayat itu adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Wahai Jiwa yang tenang Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi di ridhai olehNya” (Qs. Al-Fajr: 27-28)

Setiap manusia menginginkan ketenangan dalam hidup, ada orang yang menghabiskan segala usahanya selama bertahun-tahun hanya untuk membeli sebuah rumah di suatu tempat tertentu yang jauh dari kebisingan manusia lainnya, jauh dari kebisingan kendaraan dan carut-marut kesibukan kota, mengapa ia melakukan itu? Tidak lain karena ia menganggap keberadaannya jauh dari hiruk pikuk kehidupan sosial itulah sumber ketenangan baginya.

Ada pula sebaliknya, mereka meninggalkan keteduhan desa, kesejukan alamnya, keramahan penduduknya serta kebersihan udaranya, bahkan rela menjual apa yang ia miliki di tempat itu hanya sekedar untuk mengejar kehidupan kota yang penuh sesak, berpolusi, dan detak kehidupan yang berjalan tanpa henti, apa yang membuat ia melakukan itu? Jelas karena ia beranggapan bahwa sumber ketenangannya adalah ditempat seperti itu.

Ada pula yang lainnya yang rela menghabiskan dana yang besar demi makan di sebuah tempat yang mahal karena menganggap ketenangannya berada disitu, ada yang membeli kendaraan mewah dengan harga yang fantastis karena menganggap sumber ketenangannya ada disitu, ada yang mengejar wanita impian dengan mengorbankan segalanya karena menganggap ketenangannya berada pada wanita itu, intinya... manusia ingin ini dan itu, ingin memiliki ini dan itu, ingin menguasai ini dan itu, ingin dapat melakukan ini dan itu, semua hanya bertujuan satu, yaitu untuk memperoleh apa yang disebut dengan K E T E N A N G A N dalam hidup.

Salahkan ini?... Berdosakah ini?...

Islam melihat sifat dasar kemanusiaan ini adalah sebagai sunnatullah manusia, kodrat manusia adalah mencari ketenangan dalam hidup,` tidak terkecuali para Nabi dan Auliya Allah SWT, mereka juga mengorbankan sesuatu yang lain untuk mencari ketenangan dalam hidup.

Nabi Adam as memakan buah Khuldi karena menganggap keredhaan sang Istri dengan memakan buah itu adalah sumber ketenangan baginya, Nabi Yusuf as rela mendapat cobaan dimusuhi oleh saudara-saudaranya, dijatuhkan ke dalam sumur, dijual menjadi budak, karena beranggapan bahwa kerelaan Tuhan kepadanya adalah sumber ketenangan baginya, Nabi kita, Nabi Muhammad SAW rela hijrah meninggalkan kota kelahirannya Mekah menuju Madinah karena menganggap ketenangannya adalah di kota itu, ia dapat merapatkan barisan kaum muslimin, memperjuangkan Islam, dan membawa ummat kepada cahaya ilahi.

Kita semua, siapapun kita, apapun pangkat dan kedudukan kita, memiliki sumber ketenangan yang berbeda-beda antara satu sama lain, dan itu adalah kodrat manusia saat diciptakan oleh Allah SWT, dan itu pula adalah ujian terbesar bagi kita hidup di dunia ini.

Karena itu, tanyalah pada diri kita masing-masing apakah sumber yang kita jadikan ketenangan dalam hidup itu adalah sumber yang diridhai oleh Allah atau tidak, apakah sumber ketenangan yang menjadi kodrat kita masing adalah sumber ketenangan yang memiliki kecendrungan yang baik atau yang tidak, apakah sumber ketenangan kita itu adalah sumber ketenangan yang mengganggu kehidupan manusia lainnya atau tidak.  Itulah yang mesti selalu kita tanyakan pada diri kita saat kita akan melakukan sesuatu

Allah SWT hanya menginginkan sumber ketenangan hidup kita adalah sumber yang diridhaiNya, sumber ketenangan yang tidak menyalahi aturan kehidupan dan akal sehat, sehingga saat kita hendak menemuinya kelak, kita benar-benar menjadi orang yang lega tanpa beban, tanpa beban dosa dan kesalahan yang berhubungan dengan diri kita sendiri, lega tanpa beban dosa dan kesalahan yang berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar, lega tanpa beban dosa dan kesalahan yang berhubungan dengan Allah SWT. Saat itulah Allah SWT akan memanggil kita dengan panggilan yang mesra dan menaut hati:

يا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ارْجِعي إِلى رَبِّكِ راضِيَةً مَرْضِيَّةً فَادْخُلي في عِبادي وَ ادْخُلي جَنَّتي 

“Wahai Jiwa yang tenang Kembalilah kepadaKu dengan hati yang lega dan puas lagi di ridhai, silahkanlah masuk ke dalam barisan hamba-hambaku (yang kusayangi), dan silahkanlah masuk ke dalam surgaku ” (Qs. Al-Fajr: 27-28)

Mereka inilah orang-orang yang dianugerahi ketenangan yang sebenarnya dalam hidup, mereka inilah yang dalam tradisi Islam disebut sebagai orang-orang yang memiliki hati yang muthmain kepada Allah, orang yang yakin dan percaya bahwa sumber ketenangan hidup yang sebenarnya adalah keredhaan Ilahi, yaitu yang dapat menghantarkan manusia untuk tambah beriman, tambah beramal shalih, bertambah ketaqwaan, dan bertambah penyebaran kebaikan di muka bumi. Mudah-mudahan kita semua termasuk hambaNya yang memiliki jiwa yang Muthmain, jiwa yang tenang saat memenuhi panggilanNya kelak, amin []

05 September 2014

Meneladani Sikap Rasulullah

Rasulullah saww teladan kita
Ketika Nabi Muhammad saw belum dipilih menjadi seorang nabi dan rasul oleh Allah swt, ia adalah orang yang memiliki akhlaq yang sangat luar biasa, terpujinya akhlak yang beliau miliki bukan hanya menjadi decak kagum masyarakat kota mekah saat itu, bahkan Allah swt sendiri memuji akhlak beliau dengan menyebutkan:

وَ إِنَّ لَكَ لَأَجْراً غَيْرَ مَمْنُونٍ. وَ إِنَّكَ لَعَلى خُلُقٍ عَظيمٍ


“sesungguhnya kamu benar-benar memperoleh pahala besar yang tidak terputus, Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” (Qs. Al-Qalam:3-4)

Imam Zamakhsyari dalam tafsirnya menyebutkan bahwa mengapa Allah memberikan pahala yang tidak terputus kepada nabi? Salah satunya adalah karena kesabaran beliau yang luar biasa, sehingga Allah memberikan pahala yang Ghairi Mamnun, atau pahala yang tidak terputus bahkan hingga hari kiamat kelak.


Lebih lanjut Imam Zamakhsyari menjelaskan bahwa pahala yang luar biasa ini diberikan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw karena perilaku dan sikap yang ditunjukan beliau selama hidup di dunia, karena Allah swt tidak akan mungkin memberikan suatu kemuliaan yang luar biasa kepada seseorang tanpa melihat apa yang menjadikan seseorang itu mulia disisiNya.

Dalam sebuah hadis dari Sa’id bin Hisyam disebutkan bahwa ketika ia bertanya kepada Ummul Mukminin Aisyah ra tentang akhlak yang dimiliki Nabi, beliau menjawab:


فقالت : كان خلقه القرآن ، ألست تقرأ القرآن : قد أفلح المؤمنون .


“Akhlak Nabi adalah Al-Qur’an, bukankah engkau membaca Al-Qur’an, Sungguh beruntung orang-orang yang Mukmin? (itulah sikap Nabi Muhammad saw).

Penjelasan Imam Zamakhsyari ini menunjukkan kepada kita bahwa sikap kita selama hidup di dunia sangat menentukan hasil akhirat yang akan kita peroleh kemudian di hari akhirat, jika kita berakhlak baik di dunia maka akan baik pula hasil yang akan kita peroleh setelah kehidupan dunia, begitu pula sebaliknya jika kita berakhlaq yang buruk selama hidup di dunia, maka akan buruk pula hasil yang akan kita raih setelah kita meninggalkan dunia ini.

Banyak orang berkata bahwa kemuliaan yang diberikan Allah swt kepada Nabi Muhammad saw adalah kemulian yang sudah menjadi kodrat diri seorang Nabi, kemuliaan yang sudah menjadi sunnatullah seorang Nabi, karena itu kita sering mendengar orang berkata:  “Saya bukan Nabi, karena itu saya tidak akan mampu melakukan ini, dan tidak akan mampu melakukan itu”.

Pandangan seperti ini menurut para ulama adalah pandangan yang kurang tepat, karena terpilihnya seorang Nabi menjadi Nabi bukanlah faktor utama yang membentuk kepribadian seorang Nabi, seorang nabi memiliki track record yang luar biasa agungnya dan luar biasa perjuangannya sebelum ia diangkat oleh Allah menjadi seorang Nabi, dan saat itu mereka adalah orang-orang biasa sebagaimana manusia lainnya, mereka berusaha untuk menjadi manusia yang baik, mereka berusaha untuk menjadi manusia yang lurus, mereka berusaha untuk mempertahankan sikap-sikap yang baik dan agung, dan itu mereka lakukan jauh sebelum mereka diangkat menjadi seorang Nabi.

Berapa banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang menerangkan bahwa para Nabi adalah manusia biasa sebelumnya yang karena usaha mereka untuk menjadi manusia yang sesungguhnya, mereka menjadi orang pilihan Allah swt, padahal saat itu mereka tidak tahu menahu akan diangkat oleh Allah sebagai seorang Nabi, Al-Qur’an mengutip perkataan mereka:

قالَتْ لَهُمْ رُسُلُهُمْ إِنْ نَحْنُ إِلاَّ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka, "Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu (Qs. Ibrahim: 11)

قُلْ إِنَّما أَنَا بَشَرٌ مِثْلُكُمْ

Katakanlah, "Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu (Kahfi 110)

Ini menunjukkan bahwa sikap dan prilaku seorang Nabi bukan suatu yang mustahil untuk kita lakukan dan contohi dalam kehidupan kita sehari-hari, jika Nabi Muhammad saw dalam kehidupannya adalah seorang yang jujur, maka bukan mustahil kita dapat pula berlaku jujur dalam kehidupan kita, jika Nabi adalah seorang yang sabar, maka bukan mustahil pula kita dapat bersabar dalam kehidupan kita, menjaga hubungan baik silahturahmi, menyantuni orang-orang yang tidak mampu, ikut berempati atas duka saudara semuslim lainnya, dll demikianlah seterusnya dengan sikap-sikap terpuji Nabi lainnya yang patut menjadi contoh dan suri tauladan bagi kita semua dalam menjalani kehidupan di dunia ini.

Allah swt dalam Al-Qur’an berfirman:

لَقَدْ كانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثيراً

Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Qs. Al-Ahzab: 21)

Mudah-mudahan melaui tulisan yang singkat ini kita dapat meneladani sikap-sikap terpuji Rasulullah saw dengan mendalami peri kehidupan beliau yang tercatat dalam banyak sejarah dan sirah Nabawiyah yang dengan bantuan teknologi seperti sekarang ini sangat mudah bagi kita untuk mendapatkannya, dan mudah-mudahan pula kita menjadi orang yang mendapatkan pahala yang Ghairi Mamnun (yaitu pahala yang tidak terputus) dari Allah swt sejak kita hidup di dunia sampai ajal menjemput kita untuk kehidupan berikutnya, amin ya robbal alamin.[]

25 Juli 2014

Berlomba Dalam Kebaikan

Berlomba dalam kebaikan
Bulan Ramadhan diibaratkan sebagai tanah yang subur. Apapun yang kita tabur akan tumbuh subur, walaupun kita tidak menaburi lahan itu dengan pupuk, atau benih yang kita tanam kurang berkualitas. Namun Karena suburnya bulan Ramadhan, apapun yang kita tanam dan semai akan tumbuh subur karena bulan ramadhan adalah bulan yang khusus untuk menyuburkan segala amal kebaikan, sekecil apapun bentuknya, dan semudah apapun kelihatannya, ia akan menjadi kebaikan yang berlipat ganda, apalagi jika dikerjakan dengan penuh keimanan dengan menyadari bahwa bulan ramadhan adalah kesempatan yang besar yang diberikan Allah untuk menabur segala jenis kebaikan, walaupun disana sini terdapat alang-alang yang merusak pohon amal yang kokoh, tergantung penjagaan kita terhadap amal dan perbuatan yang kita lakukan.

Ada juga yang mengibaratkan bulan suci ramadhan ini sebagai bulan obral yang supermarketnya terdapat di mana-mana serta terbuka sepanjang saat dan setiap waktu, menawarkan aneka macam komoditi dengan harga yang sangat sangat murah. Yang diperlukan untuk meraihnya hanya sedikit usaha untuk melangkah satu dua langkah. Bahkan menampakkan keinginan pun – walau tidak melangkah – dapat mengundang pemilik supermarket itu mengirimkan sekian banyak hadiah untuk merangsang kita melangkah ke sana. Dalam bahasa agama, keinginan melangkah itu adalah dinamai niat yang tulus untuk berbuat kebajikan.

Banyak alternatif kebajikan yang dapat dilakukan di bulan suci ini. Kita tidak perlu terlalu sedih, jika salah satu ibadah yang kita inginkan tidak dapat kita lakukan karena satu dan lain hal. Kita tidak dapat mengaji karena kesibukan yang kita jalani, kita tidak dapat menghidupkan malam dengan qiyamul lail karena desakan pekerjaan ataupun tekanan keadaan, situasi dan kondisi yang luar biasa, Masih banyak lapangan kebaikan lainnya yang dapat kita kerjakan yang tidak menguras banyak waktu dan tenaga.

Namun demikian, kendati banyak lapangan kebajikan yang tersedia, mengamalkan dan mengerjakan ibadah yang disukai oleh Allah swt dan RasulNya serta memilih ibadah itu sebagai prioritas, tentu adalah lebih baik dan sangat dianjurkan.

Yang perlu kita ingat adalah, dalam berinteraksi dengan Allah, walaupun semua ibadah dan amalan adalah menguntungkan, namun dalam mengerjakannya tidak ada istilah high atau low risk – selama memenuhi kriteria yang ditetapkan-Nya – bahkan bisa jadi ada situasi tertentu yang menjadikan jenis amalan dan perbuatan baik tertentu, menjadi lebih bernilai dikerjakan pada waktu-waktu tertentu ketimbang pada saat yang lain. Di sinilah diperlukan kearifan kita serta pengetahuan kita untuk melihat skala prioritas amalan yang sesuai dengan kondisi kita masing-masing.

Allah swt berfirman:

لاَ يُكَلِّفُ اللهُ نَفْسًا إِلاَّ وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَ عَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلاَ تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِيْنَ مِن قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلاَ تُحَمِّلْنَا مَا لاَ طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَ اغْفِرْ لَنَا وَ ارْحَمْنَآ أَنْتَ مَوْلاَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ

“Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya. Ia mendapatkan pahala (dari kebaikan) yang telah diusahakannya dan mendapatkan siksa (dari kejahatan) yang telah dikerjakannya". (Qs. Al-Baqarah: 286)

Para ulama telah merumuskan sebuah konsep dalam kaidah fiqih bahwa La Itsâra fi al-qurbah (Tidak perlu mengalah dalam hal upaya mendekatkan diri kepada Allah). Hal ini maksudnya adalah karena lapangan pengabdian dan ibadah kepada Allah swt amat sangat luas dan tidak terbatas, sehingga jika kita telah mengerjakan dan mempertahankan amal ibadah yang Anda pilih, maka pihak lain seandainya tidak memperoleh kesempatan yang sama, maka ia masih dapat menemukan lapangan ibadah lain yang tidak terhitung luar biasa banyaknya.

Kabaikan sekecil apapun yang kita lakukan pasti akan diperhitungkan oleh Allah swt, demikian pula dengan kejahatan, kejahatan sedikit apapun pasti pula akan diperhitungkan oleh Allah swt, Allah berfirman:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَ مَنْ يَعْمَلْ مِثْقالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

"Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula" (Qs. Zalzalah: 7-8)

Karena itulah, berlomba-lombalah kita melakukan amal kabaikan sebanyak-banyaknya, karena itulah yang akan menjadi penyelamat kita kelak di akhirat, hari dimana tiada pertolongan yang ada selain pertolongan Allah, hari dimana tidak ada pengampunan selain pengampunan Allah, hari dimana tidak ada syafa’at selain syafa’at Allah dan orang-orang pilihan Allah, dan hal ini tidak mungkin terwujud jika kita tidak menanam benih kebaikan selama kita hidup di dunia.

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ أَيْنَ مَا تَكُوْنُوْا يَأْتِ بِكُمُ اللهُ جَمِيْعًا إِنَّ اللهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

"berlomba-lombalah (dalam berbuat) kebaikan. Di mana pun kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu" (Q.S. Al-Baqarah [2]: 148).

25 April 2014

Menjauhkan Diri Dari Sifat Sombong



sombong dan angkuh
Diriwayatkan oleh Abi Hurairah,  Nabi Muhammad SAW pernah bercerita, suatu ketika ada tiga orang dari kabilah Bani Israil, ketiganya menderita penyakit. Ada yang kusta, botak, dan buta. Lalu Allah mengutus malaikat untuk menguji ketiganya.

Pertama, malaikat mendatangi orang yang menderita kusta dan malaikat menanyainya, “Apa yang paling kamu inginkan?” Orang kusta itu menjawab, “Aku ingin wajah tampan dan kulit tubuh yang indah,  dan tidak akan ada lagi sesuatu dariku yang dibenci oleh banyak orang.”

Kemudian malaikat membasuh kulit orang tersebut, dan wajahnya berubah sesuai permintaan. Malaikat menanyainya lagi, “Lantas, harta apa yang kamu inginkan?” “Unta,” jawab si Kusta. Akhirnya si kusta diberi unta hamil. Dan malaikat mendoakan semoga membawa berkah.

Yang kedua, malaikat mendatangi orang yang botak. Dan menanyainya dengan hal sama seperti si kusta. Si botak menginginkan rambut yang bagus, serta tidak ada lagi sesuatu darinya yang dibenci oleh banyak orang.

Lalu malaikat membasuh kepala si botak, dan tumbuhlah rambutnya sesuai yang diinginkan. Malaikatpun bertanya lagi, “Harta apa yang paling kamu inginkan?” “Sapi hamil,” jawab si botak. Malaikat memberikan apa yang dimintanya.

Malaikat pun mendoakan semoga harta tersebut membawa berkah. Peristiwa yang sama juga diberi kepada orang cacat yang ketiga, yaitu orang buta. Si buta menginginkan agar Allah mengembalikan penglihatannya lagi, agar dapat melihat manusia.

Kemudian, keinginannya pun dikabulkan, si buta dapat melihat seperti sebelumnya. Malaikatpun menanyainya, “Harta apa yang kamu inginkan?” “Kambing yang beranak,” jawab si buta. Permintaanpun dikabulkan.

Setelah waktu yang lama, malaikat mendatangi mereka lagi dengan menyamar sebagai sosok pria miskin. Pertama, malaikat mendatangi orang yang sebelumnya mengidap kusta.

Malaikat berkata, “Aku telah kehabisan bekal perjalanan, dan daku tidak mampu bertahan lagi kecuali mendapat pertolongan dari Allah dan kamu yang telah diberi wajah tampan dan harta. Aku minta satu ekor unta paling kecil saja untuk bekal perjalanan.”

Orang yang awalnya kusta tadi mengecoh dan menanggapinya, “Peminta itu banyak. Dan ini semua berkat warisanku yang banyak.” Akibatnya, malaikatpun mendoakan, sehingga dia kembali kusta dan miskin. Begitu juga yang terjadi pada orang yang awalnya botak.

Tetapi, tidak pada orang yang awalnya buta. Ketika malaikat mendatanginya, orang tersebut menghargai kedatangan malaikat, dan menyuruh sosok miskin tadi mengambil apa yang dia minta. Namun, sebenarnya tujuan malaikat bukan mengambil harta, karena semua hanyalah ujian dari Allah.

Hikmah yang dapat dipetik dari kisah ini adalah jangan pernah kita menyombongkan diri dengan nikmat yang kita miliki, sombong adalah salah satu sifat tercela yang sangat dibenci oleh Allah swt. Allah swt berfirman:

إِنَّ اللهَ لا يُحِبُّ مَنْ كانَ مُخْتالاً فَخُوراً

"Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri (Qs. An-Nisa: 36)

Menurut para mufassir, ayat ini adalah sebagai peringatan kepada manusia agar mereka tidak melakukan perbuatan yang tidak disukai oleh Allah swt, perbuatan sombong adalah salah satu perbuatan yang paling dibenci oleh Allah swt, sebagaimana kita dapat melihat bagaimana ancamanNya pada ayat yang lain:


*إِنَّكُمْ لَذائِقُوا الْعَذابِ الْأَليمِ


Sesungguhnya (orang-orang yang sombong) pasti akan merasakan azab yang sangat pedih. (shaffat: 38)

Ibnu Katsir dalam tafsirnya berkata:


مختالا في نفسه، معجبا متكبرا، فخورا على الناس، يرى أنه خير منهم، فهو في نفسه كبير، وهو عند الله حقير، وعند الناس بغيض.


“Kesombongan jika telah merasuk dalam diri seseorang, maka itu akan membuat ia selalu merasa besar, sehingga merasa lebih tinggi derajatnya dari orang lain, ia melihat bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain, maka jadilah ia sombong, disisi Allah orang yang seperti ini adalah terhina, sementara disisi manusia ia adalah orang yang tidak disukai (Tafsir Ibnu Katsir, penjelasan surat An-Nisa: 6)

Penjelasan ini memberi keterangan kepada kita, bahwa salah satu penyebab utama kekacauan dalam masyarakat adalah sifat kesombongan, kesombongan menjadikan manusia merasa paling besar, menjadikan manusia merasa paling hebat, dan menjadikan mereka merasa paling benar daripada orang lain.


Inilah sifat yang merupakan awal mula kecelakaan yang paling fatal yang pernah dilakukan manusia, karena dengan itu ia akan menjadi buta, ia akan menjadi ekstrim, ia akan menjadi melakukan apapun yang ia inginkan karena menganggap bahwa ialah yang paling benar, ialah yang paling berkuasa, sehingga akibatnya melakukan tindakan yang sewenang-wenang.


Allah swt dalam banyak ayatnya telah mewanti manusia untuk jangan sekali-kali terjerumus dalam sifat kesombongan, diantaranya dalam surat Al-Isra’ ayat 37:


وَلا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحاً إِنَّكَ لَنْ تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَنْ تَبْلُغَ الْجِبالَ طُولاً

"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan tinggimu tidak akan sampai setinggi gunung" (Isra: 37)

Apa maksud firman Allah ketika berfirman bahwa manusia tidak akan dapat menembus bumi dan tidak akan pernah setinggi gunung? Imam Fakhrurrazi dalam tafsirnya berkata:


“Hal pertama yang perlu diperhatikan dalam ayat ini adalah Allah melarang kita menjadi manusia yang sombong, menjalani kehidupan dengan kesombongan dan keangkuhan, sebagaimana yang dikatakan salah seorang ulama yang bernama Az-Zujaj ketika mengutip ayat Al-Qur’an:


وَعِبَادُ الرحمن الذين يَمْشُونَ على الأرض هَوْناً


“Dan (diantara ciri) hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu ialah orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati” (Qs. Luqman: 63)

Maka ayat sesudahnya itu adalah penegasan dari Allah swt tentang pelarangan sifat sombong, karena kesombongan memiliki dua kekhususan, jika tidak yang paling dalam terhadap sesuatu, maka yang paling tinggi terhadap sesuatu, dengan kata lain merasa yang paling dalam dalam memahami sesuatu, atau merasa yang paling tinggi memiliki sesuatu, sehingga Allah menyebutkan, sekalipun kamu memahami sesuatu dengan sangat dalam, kamu tidak akan mampu menembus pemahaman hingga inti bumi, sekalipun kamu lebih tinggi dari orang lain, kamu tidak akan mampu menjadikan dirimu setinggi gunung-gunung yang menjulan tinggi, karena itulah jangan berlaku sombong.


فأنت محاط بك من فوقك وتحتك وأنت أضعف منهما بكثير ، والضعيف المحصور لا يليق به التكبر فكأنه قيل له : تواضع ولا تتكبر فإنك خلق ضعيف من خلق الله المحصور بين حجارة وتراب فلا تفعل فعل المقتدر القوي : ثم قال تعالى : { كُلُّ ذلك كَانَ سَيّئُهُ عِنْدَ رَبّكَ مَكْرُوهًا{


"Seakan-akan Allah berfirman: “Kamu hanya sebatas dirimu, sebatas apa yang ada diatasmu yang lebih besar, dan sebatas apa yang ada dibawahmu yang lebih luas, dan kamu lemah dari keduanya itu, karena itu tidak pantas kamu berlaku sombong, karena kamu hanya makhluk yang lemah dari apa yang diciptakan Allah diantara batu dan tanah, kemudian Allah berfirman pada ayat setelahnya:
“Sesungguhnya semua itu disisi Allah adalah perbuatan yang tercela yang tidak disukai”. (Tafsir Al-Kabir, dibawah penjelasan surat Al-Isra’: 37)

Dalam ayat lain Allah swt berfirman Mukminun: 46


وَ كَمْ أَهْلَكْنا مِنْ قَرْيَةٍ بَطِرَتْ مَعيشَتَها فَتِلْكَ مَساكِنُهُمْ لَمْ تُسْكَنْ مِنْ بَعْدِهِمْ


"Dan berapa banyak (penduduk) negeri yang telah Kami binasakan, karena kesombongan dan keangkuhan lantaran kenikmatan yang melimpah dalam kehidupan mereka. Itulah tempat kediaman mereka yang tidak didiami (lagi) sesudah mereka (mati)... (Qs. Al Mukminun: 46)

Lantas bagaimanakah seorang muslim bersikap supaya tidak menjadi seorang yang sombong? Sesuai ayat-ayat Al-Qur’an yang telah kita bacakan tadi, terdapat 3 resep dari Allah swt kepada kita untuk kita amalkan:


1. Selalu konsisten menjaga sifat rendah hati
2. Tidak putus asa dan bersedih atas nikmat yang hilang dari diri kita
3. Tidak terlalu gembira atas nikmat yang Allah titipkan kepada kita


لِكَيْلا تَأْسَوْا عَلى ما فاتَكُمْ وَلا تَفْرَحُوا بِما آتاكُمْ


"(Kami jelaskan semua itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput darimu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang Dia berikan kepadamu... (hadid: 23)

Mudah2an tulisan singkat ini ada manfaatnya bagi kita semua, serta menjadikan kita menjadi hamba Allah yang taat dan patuh atas pesan-pesanNya, sehingga kita menjadi orang yang selamat di dunia dan akhirat kelak.[]

07 Maret 2014

Menjaga Tali Silahturahmi Menjelang Pemilu


Tidak lama lagi kita akan menghadapi perhelatan besar untuk memilih wakil-wakil kita yang akan memimpin negeri dan bangsa ini, sebuah keharusan sebagai warga Negara yang baik adalah turut menentukan arah dan nasib bangsa dengan mengikuti pemilihan umum.

Namun menjelang kegiatan itu, kita tidak jarang mendengar terjadi peristiwa yang menyakitkan dimana satu sama lain dari elemen bangsa ini, karena perbedaan pandangan dalam menentukan pilihan dan kebijakan, terjadi persengkataan yang berujung pada memutuskan tali persaudaraan antara sesama bangsa, bahkan sesama muslim.

Agama Islam sangat mengecam tindakan yang dapat memutuskan tali persaudaraan antar sesama, pilihan kita boleh berbeda, namun bukan berarti harus saling memusuhi dan berdiri berhadap-hadapan antara kawan dan musuh. Kita memiliki permasalahan bangsa yang sama, sudah seharusnya dengan permasalahan itu kita tetap memiliki tujuan yang sama, yaitu memajukan negeri, apapun pilihan dan kebijakan yang kita miliki.

Diakui, sikap dan perbuatan kita terkadang dapat menyakiti orang lain yang bisa saja berakibat terputusnya tali silaturahim, yaitu hubungan persaudaraan yang lebih besar. Di sinilah Islam menjembataninya dengan menjaga sikap silaturahmi. Silaturahmi adalah termasuk salah satu inti ajaran Islam.

Dalam sebuah hadis diriwayatkan dari Abu Umamah ra disebutkan “Amr bin ‘Abasah as-Sulami bertanya kepada Rasululullah saw “Wahai Rasululullah, “Untuk apa Allah mengutus anda? Rasulullah saw menjawab: “Allah mengutusku untuk menjalin tali persaudaraan dengan silaturrahmi,  menghancurkan berhala supaya bertauhid, dan tidak menyekutukanNya” (HR. Muslim no. 1927)

Menyambung tali kekerabatan dan persaudaraan serta menjaganya termasuk ketaatan yang besar dan agung dalam Islam, sementara memutuskannya termasuk dosa besar dan perbuatan yang layak mendapatkan siksa—baik di dunia maupun akhirat.

Allah swt berfirman:

وَ اتَّقُوا اللهَ الَّذي تَسائَلُونَ بِهِ وَ الْأَرْحامَ إِنَّ اللهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقيباً

“Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling bekerjasama satu sama lain, dan peliharalah hubungan persaudaraan dan silaturrahmi diantara kamu, sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi perbuatanmu” (QS. An-Nisa: 1)

Qadhi ‘Iyad, salah seorang ulama terkemuka Islam pernah berkata: “Tidak ada perbedaan pendapat dikalangan para ulama, bahwasanya hukum menyambung tali persaudaraan dan menjaganya hukumnya adalah wajib (secara umum), sementara merusak hubungan persaudaran dengan memutuskan ikatan silaturahmi adalah dosa besar”.

Dalam hadis lain disebutkan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِى جَارَهُ

"Dari Abu Hurairah ra ia berkata, Rasulullah saw pernah bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menjaga persaudaraan dengan tidak menyakiti kerabatnya” (HR. Al-Bukhari no. 5787)

Hadis ini menunjukkan bahwa menjaga ikatan tali persaudaraan memiliki hubungan yang erat dengan keimanan dan ketauhidan, sehingga Allah swt menyatakan bahwa salah satu ciri orang yang beriman kepadaNya dan hari kiamat adalah tetap menjaga persaudaraan dengan tidak menyakiti orang lain.

Menjaga hubungan persaudaraan adalah suatu hal yang lebih besar nilainya, karena dengannya suatu bangsa akan tetap kuat dan bermartabat, bangsa yang senantiasa dalam perpecahan, akan menjadi bangsa yang lemah, hilang kekuatan dan marwahnya, serta menjadi sasaran musuh yang senantiasa mencari kelemahan untuk menghantamnya.

Ketika Rasulullah saw masih hidup, beliau sangat menekankan untuk menjaga ikatan persaudaraan yang lebih agung, walaupun diantara mereka terjadi silang pendapat dan perbedaan pandangan, namun beliau sangat berpesan jangan sampai perbedaan pendapat dan silang pendapat ini memutuskan ikatan tali silahturrahmi yang lebih besar.

Allah swt bahkan berfirman:

   وَ أَطيعُوا اللهَ وَ رَسُولَهُ وَلا تَنازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَ تَذْهَبَ ريحُكُمْ وَ اصْبِرُوا إِنَّ اللهَ مَعَ الصَّابِرينَ

“Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu saling bersilang pendapat yang menyebabkan kamu menjadi lemah dan hilang kekuatan, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Anfal: 46).

Ayat ini menunjukkan terdapat sesuatu yang lebih besar yang mesti kita jaga bersama dari sekedar perbedaan pandangan dan pendapat dalam menentukan kebijakan, ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai tingkatan kepentingan untuk kemajuan bersama, jangan sampai perbedaan pendapat menghancurkan kepentingan bangsa yang lebih besar dengan kelemahan dan kehilangan kekuatan. Inilah pesan yang ingin disampaikan Allah swt kepada kita.

Allah swt bukan melarang kita untuk berbeda pendapat, karena perbedaan pendapat adalah rahmah dan fitrah sunnatullah, Allah swt berfirman:

ادْعُ إِلى‏ سَبيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَ الْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَ جادِلْهُمْ بِالَّتي‏ هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبيلِهِ وَ هُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدينَ

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasihat yang baik, dan bersilang pendapatlah dengan mereka dengan cara yang terbaik. Sesungguhnya Tuhanmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk” (Qs. An-Nahl: 125)

Ayat ini menjelaskan pebedaan pendapat adalah lumrah, namun yang paling utama adalah menyikapinya dengan cara yang paling baik, perbedaan pendapat dan pilihan itu diberikan kepada kita sebagai cobaan dan ujian untuk melihat kemampuan dan kualitas kita dalam memilih yang terbaik dari pilihan yang diberikan Allah.

Karena itu Allah swt memerintahkan kepada Rasulullah saw untuk memberitakan kabar gembira kepada orang yang menyikapi perbedaan dengan sikap yang paling baik melalui firmanNya:

 فبشر عبادی ٱلَّذينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولٰئِكَ الَّذينَ هَداهُمُ اللهُ وَ أُولٰئِكَ هُمْ أُولُوا الْأَلْبابِ

“Sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (Qs. Az-Zumar: 17-18)

Kita berharap, dengan mendalami sikap persaudaraan Islam, menjalin sikap silahturahmi sesama muslim dan menjaganya, apa pun perbedaan kita dalam menilai dan menentukan pilihan dalam PEMILU nanti, tetap dapat menyatukan hati kita sebagai bangsa yang sama-sama menginginkan kemajuan dan kebangkitan umat, khususnya Umat muslim Indonesia yang bermartabat.[]

07 Februari 2014

Kesederhanaan Dalam Islam

sederhana
Islam datang sebagai ajaran mulia dengan menerapkan kesederhanaan. Pada masa sekarang ini kesederhanaan merupakan suatu keharusan dalam hidup, Islam menganjurkan agar umatnya senantiasa hidup sederhana dalam semua tindakan, sikap dan tingkah laku. Islam adalah agama yang berdasarkan nilai kesederhanaan yang tinggi. Kesederhanaan adalah satu ciri yang umum bagi Islam dan salah satu perwatakan utama yang membedakan Islam dari umat yang lain.

Atas prinsip inilah, maka seorang muslim sejati merupakan seorang yang menjalankan kehidupan sederhana dalam kehidupannya. Merekalah yang akan menjadi saksi di dunia atas setiap penyelewengan, penindasan serta penyimpangan orang-orang yang tamak akan harta dan kehidupan mewah serta bermegah-megahan, mereka melakukan korupsi korupsi sehingga mengorbankan hak orang banyak serta menelantarkan masyarakat luas.


Allah berfirman dalam Al-Qur’an:


وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفينَ


“Janganlah kamu berlebih-lebihan, Sesungguhnya Allah Tidak menyukai orang-orang yang berlebihan” (QS. Al-an’am: 141)

Benar bahwa ayat-ayat yang menjelaskan tentang israf atau sifat-sifat tamak rakus, berlebih-lebihan dalam ayat ini bertujuan supaya manusia tidak berlebih-lebihan dalam memakan makanan dan minuman, namun jika kita melihat kalimat Israf  yang digunakan dalam ayat yang lain disebutkan bahwa contoh manusia yang dimurkai Allah swt dalam catatan sejarah Al-Qur’an sebagai seorang yang rakus, tamak dan berlebih-lebih adalah Fir’aun, kita dapat melihat ayat Al-Qur’an menyebutkan:


وَ إِنَّ فِرْعَوْنَ لَعالٍ فِي الْأَرْضِ وَ إِنَّهُ لَمِنَ الْمُسْرِفينَ


"Sesungguhnya Fira'un itu berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang israf (melampaui batas)" (QS. Yunus: 83).

Jika kita melihat ayat ini kita menemukan bahwa Fir’aun disebutkan sebagai orang yang israf¸ sama seperti kata yang digunakan terhadap orang yang tamak dan rakus dalam hal makanan sebagaimana yang terdapat dalam surat al-An’am tadi.


Musrif adalah orang yang melampaui batas, tamak dan rakus serta berlebih-lebihan, bukan hanya dalam hal makanan, tetapi juga dalam hal harta, kedudukan dan jabatan. Dan fir’aun adalah contoh nyata bagi kita semua.


Dengan demikian dapatlah dipahami bahwa jika seseorang lepas dari kendali sifat kemanusiaannya yang suci, maka ia akan berubah menjadi seorang yang memiliki sifat Fir’aun yang malampaui batas, tamak, dan rakus dalam kehidupannya, padahal Fir’aun adalah makhluk yang paling rakus yang pernah ada di dunia dan dijadikan Allah sebagai pelajaran bagi seluruh manusia sehingga masih dapat kita saksikan hingga saat ini di Mesir. Sebagaimana disebutkan Al-Qur’an:


فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً وَ إِنَّ كَثيراً مِنَ النَّاسِ عَنْ آياتِنا لَغافِلُونَ

“Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu (hai Fir’aun) supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami”. (QS. Yunus: 91)

Kesederhanaan adalah budaya yang telah diterapkan oleh Rasulullah SAW. Budaya sederhana dan prinsip keadilan adalah diantara hal utama yang membentuk kepribadian dan seorang muslim, kualitas seorang muslim inilah yang telah berhasil mmebentuk kepribadian seorang muslim pada khususnya dan mengangkat derajat kesempurnaan manusia pada umumnya kepada tingkat yang paling tinggi dalam sejarah.

Gaya hidup yang sederhana dan bersahaja adalah gaya hidup Rasulullah SAW sebagai pemimpin kita. Sikap dan prilaku beliau adalah suri tauladan bagi kita umatnya. Beliau selalu menegaskan bahwa kesederhanaan tidak akan merendahkan manusia, namun justru mengangkat martabat manusia. Para pemimpin harus kembali kepada ajaran Nabi, tidak terlena oleh kemegahan duniawi. Tidak pandang bulu apakah pemimpin formal atau non formal.

Kita berharap para pemimpin kita dapat memberikan uswatun hasanah, contoh yang baik pada saat negeri ini dilanda kemiskinan, sudah sepantasnya para pemimpin menunjukan gaya hidup sederhana, sebagai ekspresi keperihatinan, sebagai simbol kebersamaan bersama rakyat yang dipimpinnya.

Adalah tidak etis jika para pemimpin mendemonstrasikan kemewahan di tengah kemiskinan masyarakat dalam menjalani kehidupannya.

Ibnu Khaldun pernah berkata: “Sebenarnya mengatur rakyat itu gampang, tinggal pemimpinnya menunjukkan perilaku yang baik di hadapan rakyat, maka rakyat akan mengikut sendiri apa yang dikehendaki oleh pemimpin.”

Maka saatnya meniru kesederhanaan Nabi. Dikisahkan Nabi Muhammad SAW dan sahabat Abu Bakar beserta pengawalnya sempat kehabisan makanan dalam perjalanan dari Makkah ke Madinah.
Nabi bersama Sahabat Abu Bakar dan dua orang pengawal singgah di sebuah perkemahan, hendak membeli perbekalan. perkemahan itu dihuni oleh seorang perempun bernama Umi Ma'bad yang ternyata dalam keadaan serba berkekurangan.

Ada seekor hewan perahan tapi sangat kurus. Namun kemudian Nabi mendekati hewan itu, memeras kantong susunya dan dengan izin Allah hewan itu keluar air susunya. Pertama-tama Nabi memberikan gelas berisi susu kepada Abu Bakar, kedua kepada Sahabat yang menuntun onta Nabi, ketika kepada Sahabat yang menuntun onta Abu Bakar, baru kemudian Nabi meminumnya.

Umi Ma'bad keheranan melihat apa yang sedang dilakukan oleh seorang pemimpin besar itu. Dia memberanikan diri bertanya kepada Nabi SAW. '' Kenapa Anda tidak minum terlebih dahulu?'' Nabi menjawab, ''Khodimul umam akhiruhum syurban, (pelayan umat itu minumnya belakangan).'' Nabi mengajarkan bahwa para pemimpin harus mendahulukan kepentingan umat yang dipimpinnya.

Mudah-mudahan kita dapat mengamalkan kesederhanaan dalam keseharian kita, sebagaimana kesederhanaan yang telah dilakukan para Anbiya sebagai pelajaran bagi kita semua, semoga dengan mengamalkan sunnah Nabi ini, kita termasuk menjadi hambanya yang suci ketika bertemu dengannya kelak di akhirat.[]

10 Januari 2014

Keutamaan Orang yang Bertaubat Disisi Allah

taubat
Tidak ada manusia yang luput dari dosa dan kesalahan, manusia dalam bahasa Arab disebut dengan kata insan, berasal dari kata nasia, yang artinya lupa, maka disaat manusia disebut dengan insan, artinya adalah manusia yang lupa dan leka, disaat manusia lupa dan leka itulah ia melakukan dosa dan kesalahan.

Karena itulah para anbiya diutus kepada manusia, sebagai pengingat mereka kepada Tuhan, sebagai seorang yang menyadarkan manusia dari kealpaan dan kelupaan sehingga tetap mengingat Allah swt dalam keadaan bagaimana pun. Allah SWT berfirman:

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَ اسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّابا


“Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan-mu dan mohon ampunlah kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima Tobat” (QS. An-Nasr:3).

Dalam Al-Qur’an kita diperintahkan untuk saling mengingati sesama manusia, karena itulah para ulama dan mereka-mereka yang berusaha mengikuti jejak para anbiya selalu mengingatkan kita dari kealpaan dan kelupaan supaya kita tidak terjerumus dalam lembah dosa, kesalahan dan kemaksiatan.


Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وتوا صو بالحق وتوا صوبالصبر


“Saling mengingatilah kamu dalam kebenaran, dan saling mengingatilah kamu dalam kesabaran” (QS. An-Nas:4-5).

Ketika kita telah mengetahui bahwa manusia tidak luput dari kesalahan dan dosa, maka sebaik-baik insan yang pelupa dan alpa adalah mereka melakukan taubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT atas dosa dan kesalahan yang ia lakukan.

Banyak sekali ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang menekankan pentingnya seorang insan untuk bertaubat, beristighfar, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Ayat-ayat itu antara lain:

وَ اسْتَغْفِرِ اللهَ إِنَّ اللهَ كانَ غَفُوراً رَحيماً


“Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An-Nisa: 106)

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللهِ وَ يَسْتَغْفِرُونَهُ وَ اللهُ غَفُورٌ رَحيمٌ


“Maka mengapa mereka tidak bertobat dan memohon ampunan kepada Allah? Padahal Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Al-Maidah: 74)

وَما كانَ اللهُ مُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُونَ


“Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sedang mereka memohon ampunan kepadaNya” (QS. Al-anfal: 33)

Terdapat syarat-syarat utama yang patut kita perhatikan dalam bertaubat, dan memohon ampunan kepada Allah SWT, diantara syarat-syarat itu adalah:

1. Langsung bertaubat dan tidak menunda-nundanya

Allah SWT dalam Al-Qur’an telah berfirman:

وَ مَنْ يَعْمَلْ سُوءاً أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللهَ يَجِدِ اللهَ غَفُوراً رَحيماً


“Barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia langsung memohon ampunan kepada Allah, niscaya ia akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. Nisa: 110)

Kata Tsumma dalam ayat ini berarti suatu perbuatan yang telah dilakukan, dan akan mulai hendak melakukan suatu perbuatan yang lainnya, dengan demikian maksud ayat ini adalah jangan sampai kita melakukan suatu perbuatan yang lain setelah melakukan suatu kesalahan selain langsung menyesali perbuatan itu dan langsung bertaubat dan memohon ampunan kepada Allah SWT.


Menunda-nunda bertaubat dapat menghapuskan kesempatan kita memperoleh ampunan dari Allah swt atas dosa dan kesalahan yang kita lakukan.


2. Langsung menghentikan kesalahan yang sedang
kita lakukan

Allah SWT dalam Al-Qur’an berfirman:

وَالَّذينَ إِذا فَعَلُوا فاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَ مَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلاَّ اللهُ وَ لَمْ يُصِرُّوا عَلى ما فَعَلُوا وَ هُمْ يَعْلَمُونَ


“Dan orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka lantas ingat kepada Allah, lalu mereka memohon ampunan akan dosa-dosa mereka, dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui” (Ali Imran: 135)

Kata Walam yushirru ‘ala ma fa’alu dalam ayat ini menegaskan bahwa dalam diri kita selalu terdapat teguran yang akan selalu mengingatkan kita atas kesalahan dan dosa yang sedang kita lakukan, jika kita mengikuti teguran iman ini, dan kemudian menghentikan perbuatan dosa yang kita lakukan, maka disaat itulah Allah swt mengampuni dan menghapus dosa dan kesalahan yang sedang kita kerjakan, inilah yang disebut dengan fitrah nurani kemanusiaan yang selalu mengontrol diri kita supaya tetap pada jalan yang benar dan diridhai olehNya.

3. Tidak melakukan kesalahan yang berhubungan dengan manusia lainnya


Allah SWT, para Anbiya, dan para alim Ulama sangat mewanti kepada kita agar jangan sampai melakukan kesalahan dan dosa yang berhubungan dengan manusia lainnya, hal ini akan berakibat susahnya bertaubat bagi mereka yang melakukannya. Diantara perbuatan itu adalah:

Membunuh orang lain


Allah SWT berfirman:

وَ مَنْ يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزاؤُهُ جَهَنَّمُ خالِداً فيها وَ غَضِبَ اللهُ عَلَيْهِ وَ لَعَنَهُ وَ أَعَدَّ لَهُ عَذاباً عَظيماً


“Dan barang siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya ialah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar untuknya” (QS. An-Nisa: 93)

Maka bagaimanakah cara bertaubat bagi orang yang telah membunuh seorang mukmin dengan sengaja jika ia menyesali perbuatannya? Para ulama menetapkan bahwa cara taubatnya adalah dengan qishas sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an:


وَ مَنْ قُتِلَ مَظْلُوماً فَقَدْ جَعَلْنا لِوَلِيِّهِ سُلْطاناً فَلا يُسْرِفْ فِي الْقَتْلِ إِنَّهُ كانَ مَنْصُوراً


"Dan barang siapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan (hak kisas) kepada wali keluarganya, tetapi janganlah ia melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat perlindungan" (QS. Al Isra’: 33)

Kecuali jika wali keluarganya memaafkan si pembunuh, dan si pembunuh membayar denda (diyat) kepada keluarga yang ditinggalkan.


Berzina


Cara bertaubat bagi orang yang melakukan zina adalah dijilid sebanyak 80 kali bagi yang masih perjaka, atau diracam sampai mati bagi yang sudah pernah menikah.


Mengambil hak orang lain yang bukan haknya


Maka taubatnya adalah dengan mengembalikan semua hak orang lain yang diambilnya itu.

Apa yang kita harapkan selain keselamatan kita dalam kehidupan akhirat? Yaitu kehidupan nyata yang sebenarnya, yang kita biasa terlupa dan terleka dari memikirkannya, kehidupan dunia hanyalah sementara sebagai usaha kita untuk menuju akhirat, ia akan habis dalam usia maksimal 80 tahun atau 90 tahun, bahkan tidak ada yang menyangka dalam usia muda dan masih belia juga dapat menjemput kematian.

Maka berseger
alah kita menuju ampunan tuhan, sehingga kita termasuk hambanya yang dsebutkan dalam Al-Qur’an sebagai orang-orang yang mendapatkan ampunan Allah dan memperoleh surga yang kekal abadi.

أُولئِكَ جَزاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَ جَنَّاتٌ تَجْري مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهارُ خالِدينَ فيها وَ نِعْمَ أَجْرُ الْعامِلينَ

“Balasan mereka (yang bertaubat) ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, dan mereka kekal di dalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala (bagi) orang-orang yang beramal (di dunia)” (QS. Ali imran: 136).

25 Oktober 2013

Maju Bersama dan Sama-Sama Maju

kerjasama
Abdurrahman bin Auf adalah salah seorang sahabat Nabi yang terkenal kaya raya di kota Mekah, ia adalah seorang saudagar sejak masa jahiliyah, ketika ia mengenal Islam, mengenal kebenaran dan rasionalisme yang ada dalam Islam, ia pun akhirnya tertarik kepada Islam, ia meninggalkan segala usaha yang secara rasional memang tidak benar dalam perdagangan, meninggalkan cara-cara jahiliyah kemudian beralih kepada usaha perdagangan yang Islami.

Untuk menebus dosa-dosa dan kesalahan yang telah ia lakukan, ia pun bersumpah akan mengorbankan semua hartanya di jalan Islam untuk membantu perjuangan Nabi dalam menyebarkan kebenaran kepada seluruh alam.

Usaha yang paling signifikan yang ia lakukan adalah berperan aktif dalam mengentaskan kemiskinan dan keterbelakangan umat Islam saat itu supaya memudahkan mereka dalam menerima pencerahan Rasulullah saw. Sebagaimana yang diketahui, para pemeluk Islam pertama dan terbanyak saat itu adalah berasal dari golongan faqir miskin.


Berkat pengorbanannya itu ia pun akhirnya terkenal sebagi sahabat yang paling banyak membiayai perjuangan dakwah Nabi selama masa hidupnya. Demikian banyaknya bantuan yang ia diberikan, sampai-sampai ketika ia melakukan hijrah ke Madinah, ia tidak memiliki apapun lagi bahkan untuk membiayai kehidupanya sendiri.

Di Madinah, ia memulai kembali kehidupannya sebagai saudagar, walaupun kehidupannya susah karena baru saja memulai kembali kehidupannya, namun ia tidak melepaskan sifat-sifat mulia yang ia pelajari dari Islam, sifat merasa cukup (qana’ah), sifat keinginan untuk maju bersama, tidak hanya mementingkan diri pribadi, menganggap sesame muslim adalah saudara seperti satu tubuh, dermawan bagi yang memerlukan, adalah sifat-sifat yang ia miliki dan ia amalkan bersama Rasulullah saw.

Saat itu, Abdurrahman bin Auf termasuk salah seorang sahabat yang menjalani program persaudaraan (atau yang dikenal dalam sejarah Islam dengan istilah muakhah) dengan salah seorang keluarga di Madinah, sebuah program pertama yang dilakukan Rasulullah setelah melakukan hijrah untuk menyatukan semua pihak sebagai bangsa baru yang satu dan kuat setelah sebelumnya terpisah-pisah, terpecah sejak ratusan tahun dan terlibat peperangan antar suku yang tiada berkesudahan.

Inilah program kebhinnekaan umat pertama yang tercatat dalam sejarah peradaban manusia, sebuah cikal bakal lahirnya sikap kerukunan, toleransi, kasih sayang dan saling menghormati dan menghargai antar sesama manusia, padahal mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
Abdurrahman bin Auf dari suku Qurays dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Rabi’ dari suku Anshar, mereka pun akhirnya menjadi saudara satu sama lain dibawah payung Islam. Sikap persaudaraan itu tergambar dari sikap Sa’ad bin Rabi yang mempersilahkan kepada Abdurrahman bin Auf untuk memakai, menggunakan, dan mengambil apa saja yang ia sukai dari apa yang ia miliki, dan berkata bahwa harta kekayaan yang ia miliki adalah juga miliknya.

Disisi lain, Abdurrahman bin Auf pun bukanlah sosok yang berpangku tangan, ia tidak akan mengambil sesuatu begitu saja tanpa melakukan usaha, melalui modal yang ia miliki ia pun memulai kembali usahanya dengan gigih, jujur dan tekun sehingga dapat membangun kembali kehidupannya sebagaimana kehidupannya di Mekah sebelum ia melakukan hijrah.

Kisah ini memberi kita keteladanan dan contoh, bagaimana sifat-sifat mulia dan kegigihan seorang sahabat dalam menjalani kehidupannya, hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah akibat iman yang ia miliki dan pemahaman tentang Islam yang sesuai dengan fitrah kemanusiaan dalam menjalani kehidupannya, ia berbaik sangka kepada Allah swt bahwa Allah swt tidak akan menyia-nyiakan Iman yang dibarengi dengan kegigihan dan kerja keras bagi orang-orang yang berusaha di jalanNya.

Iman dan Prilaku gigih serta kerja keras karena Allah swt adalah sebuah dorongan yang kuat yang memberikan semangat kepada manusia untuk terus berusaha sampai ia berhasil namun juga tidak melupakan sikap-sikap rasional yang diajarkan Islam. Inilah spirit yang dibangun dan dimiliki oleh Abdurrahman bin Auf dalam meneladani sifat seperti yang diamanahkan oleh Allah swt dalam Al-Qur’an:

إِنَّ اللهَ لا يُغَيِّرُ ما بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا ما بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah swt tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan mereka sendiri” (Qs. Ar-Ra’d [13]: 11)

Merubah keadaan suatu kaum, merubah keadaan suatu masyarakat, bangsa dan negara, tidak akan dapat dilakukan kecuali jika tidak dimulai dari merubah diri kita sendiri untuk menjadi lebih baik seperti yang telah dicontohkan oleh sahabat yang mulia Abdurrahman bin Auf.

Betapa banyak kemudahan dan kemewahan yang ia peroleh saat ia adalah salah seorang yang paling kaya di kota Mekah, atau saat Nabi mempersaudarakannya dengan seorang konglomerat yang memiliki harta kekayaan melimpah saat ia hijrah ke Madinah. Namun Abdurrahman bin Auf, memberi contoh keimanan, kegigihan dan kerja keras, serta pengamalan ajaran Islam kepada masyarakat yang baru tercerahkan dengan mengorbankan harta milik pribadinya untuk kemajuan bersama adalah lebih utama untuk dilakukan.

Berkat pengorbanan yang ia lakukan, penyebaran islam menjadi mudah, keterbelakangan masyarakat menjadi teratasi, sehingga saat itu umat dapat maju bersama dan bersama-sama maju untuk membangun peradaban setelah sebelumnya jatuh ke lembah jahiliyah di tengah padang pasir yang hanya dikenal sebagai tempat berkumpulnya orang-orang nomaden dan terbelakang dari sisi budaya yang primitif.

Ketimpangan sosial yang terjadi di berbagai bangsa dunia tidak lain karena keinginan pihak-pihak tertentu untuk menguasai sendiri semua kekayaan alam dan sumber daya manusia, mereka ingin menguasai pihak yang lain serta menjaga pihak itu untuk tetap berada dalam keadaan itu sehingga mereka pun bisa menguasainya. Padahal asas Islam adalah persaudaraan dan persatuan membangun untuk kemajuan bersama sebagaimana yang dicontohkan Nabi melalui program persaudaraan di Madinah.

Bangsa kita adalah bangsa yang sangat kaya dengan berbagai sumber daya alam dan sumber daya manusia, jika kita bekerja keras dan gigih yang dilandasi dengan keimanan dan ketaqwaan serta bersama-sama membangun kemajuan bangsa sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw dan sahabatnya, tentu Allah swt tidak akan menyia-nyiakan upaya dan jerih payah itu bagi kemajuan bersama bangsa.

Mudah-mudahan dengan kegigihan pemimpin dan rakyat kita, serta wawasan yang mereka miliki berdasarkan iman, dan sikap-sikap terpuji, menjadi bingkai tindakan dan prilaku mereka untuk bersama-sama, saling bahu membahu dan bekerja sama untuk membangun negeri sehingga dapat merubah keadaan bangsa kita menuju keberhasilan dan kesuksesan serta berperadaban sebagaimana yang kita cita-citakan.[]

16 Oktober 2013

Makna Aidil Adha

aidil adha
Allah swt berfirman dalam surat al-hajj: 28 :

وَ أَذِّنْ فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجالاً وَ عَلى‏ كُلِّ ضامِرٍ يَأْتينَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَميقٍ. لِيَشْهَدُوا مَنافِعَ لَهُمْ وَ يَذْكُرُوا اسْمَ اللهِ في‏ أَيَّامٍ مَعْلُوماتٍ عَلى‏ ما رَزَقَهُمْ مِنْ بَهيمَةِ الْأَنْعامِ فَكُلُوا مِنْها وَ أَطْعِمُوا الْبائِسَ الْفَقيرَ


“Dan serulah manusia untuk berhajji niscaya mereka akan mendatangimu dengan berjalan kaki dan mengedarai kendaraan dari tempat yang jauh agar mereka dapat menyaksikan banyak hal yang bermanfaat bagi mereka atas apa yang Allah berikan kepada mereka…”. (Qs.  al-hajj: 28)

Inilah seruan agung yang diserukan khalilullah Nabi Ibrahim as. setelah selesai menyelesaikan pembangunan kembali Ka’bah bersama putranya Ismail as. Dia serukan hal itu dengan naik ke atas sebuah tempat yang disebut Jabal Qubais dengan menyeru:

“Wahai hamba-hamba Allah, kemarilah kalian dan ziarahilah Baitullah! Lalu kemudian seruan itu Allah perdengarkan kepada manusia yang masih berupa nutfah, atau kepada mereka yang akan hidup beribu-ribu tahun yang akan datang, dan mereka bersama-sama mengucapkan lafaz talbiyyah:

لبیک اللهم لبک، لبیک لا شریک لبیک، ان الحمد و النعمة لک و الملک لا شریک لبیک

“Wahai Tuhanku aku penuhi panggilan-Mu, aku penuhi panggilan-Mu tiada sekutu bagi-Mu, aku penuhi pangilan-Mu, sungguh segala puji, nikmat, dan seluruh alam hanya milik-Mu, tidak ada sekutu bagimu”.

Idul adha atau aidil qurban adalah hari raya penghambaan. Aidil Qurban adalah hari raya bagi siapa saja yang menganggap dirinya hanyalah seorang hamba yang harus mengorbankan hal yang paling dicintainya kepada Allah. Marilah kita sekarang melakukan perjalanan ruhani ke Mina. Di tempat itu, pada hari Raya Idul Adha, jutaan jamaah haji melakukan penyembelihan atas hewan kurban. Dimana sebelumnya, mereka melakukan lempar jumrah. Mereka melempari tugu-tugu yang menjadi simbol hawa nafsu syaitaniah.

Apa yang dilakukan jamaah haji itu merupakan pengulangan atas sebuah peristiwa sangat penting dan agung yang pernah terjadi kepada Nabi Ibrahim dan putranya Ismail as. Peristiwa yang agung itu tercantum dalam Al-Quran surah Ash-Shaffat ayat 102. Dalam surat itu, Allah berfirman:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قالَ يا بُنَيَّ إِنِّي أَرى‏ فِي الْمَنامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ ماذا تَرى‏ قالَ يا أَبَتِ افْعَلْ ما تُؤْمَرُ سَتَجِدُني‏ إِنْ شاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرينَ


“Telah Kami kabarkan berita gembira kepada Ibrahim tentang anaknya yang sangat sabar. Ketika anaknya (Ismail) itu telah sampai pada usia yang cukup baginya untuk melakukan usaha, Ibrahim berkata, ‘Wahai anakku, sungguh aku telah bermimpi. Dalam mimpiku itu, aku menyembelihmu. Bagaimana pendapatmu mengenai hal ini?’ Ismail lalu menjawab, “Wahai ayahku, kerjakanlah apapun yang telah diperintahkan. Insya Allah, engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar” (Qs. Ash-Shaffat: 102)

Percakapan yang singkat ini telah menorehkan sebuah gambaran dunia yang bersih serta penuh dengan kerelaan, keikhlasan dan cinta serta penghambaan yang luar biasa. Dua manusia mulia ini, yaitu nabi Ibrahim dan Ismail as, telah menunjukkan sebuah konsep penghambaan yang paling agung yang pernah tercatat dalam sejarah manusia. Bagi siapapun juga, hal yang paling berharga yang dimiliki oleh manusia adalah nyawanya. Bagi seorang ayah siapa pun juga, nyawa seorang anak kandung adalah jiwa yang paling bernilai yang dimilikinya.


Karena itu, kepatuhan Nabi Ibrahim as untuk mengorbankan nyawa anaknya, dan kepatuhan Ismail  untuk mengorbankan nyawanya sendiri, demi mena’ati perintah Allah, jelas hanya bisa terjadi karena keduanya sudah sampai kepada tingkat penghambaan tertinggi yang dimiliki manusia, dan kita diminta untuk meneladaninya dengan memperingati Aidil Adha pada setiap tahunnya.


Keduanya, Nabi Ibrahim dan Ismail as. telah membuktikan bahwa pernyataan mereka tulus, bukan pernyataan kosong yang hanya sebagai pemanis bibir. Mereka telah benar-benar memurnikan kepasrahan dan keikhlasan hanya kepada Allah. Mengakui dan menyadari bahwa pemilik hakiki kehidupan hanyalah Allah swt. Bahwa semuanya, tanpa kecuali, adalah milik Allah, tak berbagi dengan siapa pun, termasuk dengan diri mereka sendiri. Allah swt berfirman yang selalu kita ikrarkan setiap waktu dalam shalat kita:


ان صلاتی و نسکی و محیای و مماتی لله رب العالمین. لا شریک له و بذالک امرت و انا اول المسلمین

“Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku, semata-mata milik Allah Tuhan seluruh alam; tidak ada seorang sekutu pun selainNya. Dan Untuk itulah aku diperintahkan, dan saksikanlah bahwa aku adalah orang pertama yang menerima dan yang pasrah menjadi seorang Muslim”

Maka, sudah sepatutnyalah kedua nabi agung itu mendapatkan tempat terdekat di sisi-Nya sebagai kekasih-kekasih-Nya.

Sekarang kita, yang setiap saat juga berikrar seperti Nabi Ibrahim AS, Inna shalaati wanusuki… dan seterusnya. Jangan tanya tentang apakah kita sudah mampu melepas "kepemilikan" dari diri kita sendiri dan menisbatkannya hanya kepada Allah? Bertanyalah dalam diri kita, apakah kita sudah dapat menghilangkan rasa sayang melepas sebagian "milik" kita demi Allah?

Pengorbanan tiada tara yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail as. itu menyebabkan turunnya rahmat dan keridhoan dari Allah yang Maha Pengasih. Allah kemudian mengganti Ismail dengan seekor domba. Ismail sendiri selamat karena yang kemudian disembelih adalah domba yang diturunkan Allah itu. Firman Allah dalam surah Ash-Shaffat ayat 105 hingga ayat 110 berikut ini.

قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيا إِنَّا كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنينَ. إِنَّ هذا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبينُ. وَ فَدَيْناهُ بِذِبْحٍ عَظيمٍ. وَ تَرَكْنا عَلَيْهِ فِي الْآخِرينَ. سَلامٌ عَلى‏ إِبْراهيمَ. كَذلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنينَ. إِنَّهُ مِنْ عِبادِنَا الْمُؤْمِنينَ

“Wahai Ibrahim, perintah yang engkau dapati dalam mimpi itu telah engkau kerjakan. Kami tentu memberikan balasan kepada orang-orang yang baik seperti itu. Sesungguhnya, ini adalah ujian yang sangat besar. Untuk itu, kami ganti pengorbanan itu dengan sembelihan yang agung. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Salam bagi Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Ia termasuk di antara hamba-hamba-Ku yang beriman”.

Idul Qurban adalah puncak dari pelaksanaan manasik haji. Di Mina, pada hari itu, kita akan melihat jutaan hamba Allah mengerjakan perintah Allah SWT. Mereka berkurban sebagaimana yang dulu Nabi Ibrahim as telah berqurban. Dengan penuh cinta dan keikhlasan, mereka membeli hewan yang paling baik dan tidak memiliki cacat sedikitpun. Setelah itu, hewan pilihan itu mereka kurbankan dan mereka persembahkan kepada Allah sebagai bentuk pengorbanan dan penghambaan.

Di seluruh dunia, kaum muslimin juga merayakan hari pengorbanan dan penghambaan ini. Hari sebagai momentum melepaskan rasa egoisme kemanusiaan menuju keikhlasan abadi dan penghambaan kepada Allah swt dengan sebenar-benar penghambaan, Bersama-sama dengan saudara-saudara mereka yang berada di Mina, mereka juga merayakan keberhasilan mereka dalam mengalahkan hawa nafsu dan bisikan setan selama mengerjakan ibadah haji.

Mereka bergembira karena  mampu meneladani perilaku keluarga Nabi Ibrahim, yang dengan tangguhnya mampu menghadapi godaan-godaan setan dan hawa nafsu, sehingga berbagai manuver tipu daya dan pengelabuan setan yang menyesatkan berhasil mereka kenali dan menghalaunya dengan penuh keimanan. Sikap teguh menghadapi tipu daya setan inilah yang dalam ibadah haji dilambangkan dengan melontar jumrah.

Bersama para jamaah haji lainnya, mereka berharap sepenuh hati dan keikhlasan agar dengan ibadah haji dan kurban itu, kecintaan pada dunia, kecintaan kepada diri, anak, isteri, suami, dan harta jangan sampai melebihi dengan kecintaannya kepada Allah. Allah berfirman:

وَ مِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُوْنِ اللهِ أَنْدَاداً يُحِبُّوْنَهُمْ كَحُبِّ اللهِ وَ الَّذِيْنَ آمَنُوْا أَشَدُّ حُبًّا ِللهِ

“Di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang yang beriman, mereka sangat mecintai Allah” (QS. Al-Baqarah : 165).

Haji adalah lambang persatuan dan kesatuan umat. Ajaran ini tercermin sejak orang yang melaksanakan ibadah haji memasuki miqat. Di sini mereka harus berganti pakaian karena pakaian melambangkan pola, status, dan perbedaan-perbedaan tertentu. Pakaian menciptakan batas palsu yang tidak jarang menyebabkan perpecahan di antara manusia. Selanjutnya dari perpecahan itu timbul konsep "keakuan" yang egois, bukan "kami atau kita", sehingga yang menonjol adalah kelompokku, kedudukanku, golonganku, sukuku, bangsaku, dan sebagainya yang mengakibatkan munculnya sikap individualisme. Padahal penonjolan sikap egois "keakuan" adalah perilaku orang-orang musyrik yang dilarang oleh Allah swt.

Haji juga melambangkan egalitarianisme. Mulai dari miqat mereka mengenakan pakaian yang sama yaitu kain kafan pembungkus mayat, yang terdiri dari dua helai kain putih yang sederhana. Semua memakai pakaian seperti ini. Tidak ada bedanya antara yang kaya dan yang miskin, yang cukup makan dan yang kurang makan, yang dimuliakan dan yang dihinakan, yang bahagia dan yang sengsara, yang terhormat dan orang miskin awam, yang berasal dari Barat atau yang berasal dari Timur. Mereka memakai pakaian yang sama berwarna putih, berangkat pada waktu sama dan menuju tempat yang sama, serta akan bertemu pada waktu dan tempat yang sama pula. Mereka beraktifitas dengan aktivitas yang sama bahkan menggunakan kalimat yang sama.

Ibadah haji dan kurban juga menunjukkan semangat kepatuhan secara mutlak terhadap segala yang diperintahkan oleh Allah swt. Allah berfirman:

لَنْ يَنالَ اللهَ لُحُومُها وَلا دِماؤُها وَ لكِنْ يَنالُهُ التَّقْوى‏ مِنْكُمْ كَذلِكَ سَخَّرَها لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلى‏ ما هَداكُمْ وَ بَشِّرِ الْمُحْسِنينَ

“Sembelihan itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapai-Nya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepadamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (Al Hajj 37)

Ayat ini tidak lain adalah menjelaskan inti aidil Qurban yang sebenarnya Disebutkan dalam surat itu bahwa sembelihan tidak akan sampai kepada Allah, karena memang Allah tidak memerlukan semua itu, yang dinilai oleh Allah adalah ketakwaan dan keikhlasan serta penghambaan kita kepada Allah sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya as. dalam catatan emas sejarah.
Karena itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tujuan yang harus dicapai oleh manusia dengan ibadah haji adalah pencapaian tahap demi tahap nilai ketakwaan, hingga mencapai derajat manusia sempurna. Keterpisahan dan hal-hal duniawi yang mengikat dan dari berbagai bentuk hawa nafsu adalah pelajaran terpenting yang harus diserap oleh siapa saja yang menjalankan ibadah haji ini.[]

04 Oktober 2013

Antara Ibadah Haji Dan Keikhlasan

Tidak lama lagi kita akan memasuki bulan Zulhijjah, sebagaimana kita ketahui, Ada tiga peristiwa besar yang terjadi pada bulan Dzulhijjah yaitu pertama adalah pelaksanaan ibadah haji, kedua adalah perayaan hari raya ‘idul adha, dan ketiga adalah penyembelihan hewan qurban. Ketiga ibadah ini satu sama lain adalah ibadah yang saling terkait satu sama lain.

Keterikatan semua ibadah ini tidak lain dan tidak bukan adalah bersatunya 3 ibadah dalam satu bulan sebagai momen penting untuk memupuk rasa keikhlasan.


Inti dari ibadah haji adalah keikhlasan, inti dari hari raya adalah keikhlasan, demikian pula dengan inti dari penyembelihan hewan qurban adalah keikhlasan. Inilah bulan Zulhijjah, bulan perjalanan manusia untuk berhijrah dari perbuatan yang penuh dengan keinginan, menjadi perbuatan yang penuh dengan keikhlasan.


Dalam ajaran Islam, ikhlas merupakan ruh suatu amal dan jiwa suatu ibadah. Keikhlasan adalah penentu mutlak suatu amal ibadah akan diterima disisi Allah swt atau ditolak. Jika suatu amal ibadah dilakukan tidak dengan rasa ikhlas, maka ibadah itu tidak akan bernilai apapun di sisi Allah swt. Sebaliknya, jika suatu amal ibadah kita lakukan dengan penuh keikhlasan karena Allah, maka tidak ada pahala yang lebih besar di sisi Allah selain amalan yang walaupun sedikit namun dikerjakan karena dasar keikhlasan.


Kenapa keikhlasan disebutkan sebagai ruh suatu amal dan jiwa suatu ibadah? Ibarat seorang manusia. Bila ruhnya telah tiada, maka ia akan berubah menjadi mayat. mayat mestilah dikuburkan karena nilai kemanusiaannya telah tiada.


Begitulah dengan amal ibadah kita ini. Kalau tidak ada roh yang menjadi jiwanya, yaitu keikhlasan, maka amal ibadah itu tidak lebih seperti mayat atau bangkai yang tidak ada gunanya lagi.


Allah swt dalam Al-Qur’an berfirman:


وَما أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفاءَ وَ يُقيمُوا الصَّلاةَ وَ يُؤْتُوا الزَّكاةَ وَ ذٰلِكَ دينُ الْقَيِّمَةِ


"Dan tidaklah mereka diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan dan keikhlasan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus". (Qs. Al Bayyinah: 5)

Ibadah Haji dan Qurban adalah ujian keikhlasan, keikhlasan bagi mereka yang pergi menunaikan ibadah haji, dan keikhlasan pula bagi mereka yang tidak atau belum sempat untuk menunaikannya dengan berkurban. Ibadah ini tidak menuntut selain keikhlasan kita sebagai hamba Allah swt.


Keikhlasan berarti memenuhi perintah Allah tanpa mempertimbangkan keuntungan pribadi atau balasan apa pun. Seseorang yang ikhlas akan berpaling kepada Allah dan hanya ingin mendapatkan ridha-Nya atas setiap perbuatan, langkah, kata-kata, dan do’anya. Dengan demikian, ia benar-benar yakin akan janji Allah kepada dirinya bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatan hambaNya.


إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللهَ عَليمٌ خَبيرٌ


"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal". (Qs. Al Hujurat: 13)

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk memperkuat rasa keikhlasan dalam diri kita:


1. Meningkatkan pemahaman kita tentang kehidupan


Kesibukan kita sehari-hari tidak diragukan telah banyak menyita waktu kita untuk memikirkan dan bertafakur mengenai kehidupan yang bagaimana sebenarnya yang sedang kita lalui.


Apakah kehidupan ini akan berlalu saja tanpa ada akhir dari kehidupan? Sedangkan pengalaman dan fakta membuktikan bahwa kita sebelum 20 tahun yang lalu, atau kita sebelum 30 tahun yang lalu, atau bahkan 60 tahun lalu adalah tidak ada. Pengalaman dan fakta juga telah menyebutkan bahwa betapa banyak orang yang dulu ada dan hidup bersama kita kini telah tiada meninggalkan kita.


Kemanakah mereka pergi? Akankah kita juga akan seperti mereka? Pergi meninggalkan kehidupan ini menuju alam yang lain? Lantas apa yang akan kita bawa ke alam itu selain amal kebajikan yang kita lakukan saat ini?


Kehidupan kita saat ini tidak lain adalah salah satu dari beberapa tahapan kehidupan kita sebagai manusia, kita telah melalui kehidupan alam ruh, kehidupan alam rahim, dan kita kehidupan di dunia, kedepan ada kehidupan alam barzah yang sedang menanti kita, mau tidak mau kita akan memasukinya.


Maka perbanyaklah amal ibadah sementara kita masih dapat melakukannya di dunia ini, dan keikhlasan adalah kunci suatu amal diterima disisi Allah swt. 


2. Mengingat nikmat-nikmat yang telah diberikan Allah dan mensyukurinya


Dalam Ayat al-Qur’an disebutkan :


لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزيدَنَّكُمْ وَ لَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذابي‏ لَشَديدٌ


“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Ibrahim: 7)

Mensyukuri nikmat yang telah diberikan Allah swt kepada kita adalah kunci kekalnya keikhlasan dalam setiap amal ibadah yang kita lakukan.


Kita tentu masih ingat, bahwa apapun kebaikan yang kita lakukan di dunia jika mengandung kebaikan maka itu menurut Islam adalah ibadah, dengan demikian perbuatan baik apapun yang kita lakukan jika dilaksanakan dengan keikhlasan selain akan terasa ringan, disisi Allah lebih besar pahalanya daripada amal yang dikerjakan karena motivasi tertentu yang bersifat keduniawian.


3. Memperbanyak zikir dan mengingat kebesaran Allah swt


Allah swt dalam al-Qur’an berfirman:


يَهْدي إِلَيْهِ مَنْ أَنابَ الَّذينَ آمَنُوا وَ تَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُمْ بِذِكْرِ اللهِ أَلا بِذِكْرِ اللهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ


"Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bertobat kepada-Nya Mereka adalah orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram" (Qs. Ar Ra’d: 28)

Ayat ini adalah bentuk penegasan dari Allah swt kepada kita bahwa dengan mengingat Allah, kebesaran dan kemurahanNya, maka hati orang-orang yang beriman dan percaya serta yakin kepadaNya akan menjadi tenang, merekalah yang mendapat petunjuk Allah sSWT.


Ini pula yang akan membuat seorang muslim tetap bahagia hidup di dunia apapun ujian yang menimpanya.


Ini pula yang akan memupuk rasa keikhlasan seorang mukmin dalam kondisi bagaimana pun ia berada, dan dalam lingkungan bagaimanapun ia hidup dan menjalaninya, mudah-mudahan dengan menjalankan segala amal kebaikan dan ibadah dalam kehidupan ini, kita dapat menjaga keikhlasan sebagai tolok ukur suatu ibadah disisi Allah SWT khususnya dibulan Zulhijjah ini, bulan yang merupakan momentum keikhlasan kita sebagai seorang hamba di hadapan Allah SWT.[]