17 Oktober 2014

Kemanakah Kita Akan Pergi?

Persimpangan Jalan
Dalam kitab suci kita, Al-Qur’an terdapat satu ayat yang sangat singkat namun sangat penuh dengan makna, sebuah ayat yang meramu dua kehidupan nyata kita, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat, ayat itu adalah Firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ


“Maka kemanakah kamu akan pergi?” (Qs. Takwir: 26)

Imam Al-Alusi dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat ini menunjukkan kepada kita bahwa hidup adalah pilihan, Allah swt dengan hikmahnya telah memberikan banyak jalan (suluk) di dunia ini untuk dipilih oleh manusia, ibarat seseorang yang ingin menuju suatu tempat sementara di hadapannya ada berbagai jalan yang ia akan tempuh, maka Allah swt berfirman:

فَأَيْنَ تَذْهَبُونَ


“Maka kemanakah kamu akan pergi?”

Imam Al-Alusi juga menerangkan bahwa pertanyaan Allah ini sebagai “Amrul Qur’anil Adhim” atau sebagai permasalahan yang sangat agung yang terdapat dalam Al-Qur’an, betapa tidak, inilah pertanyaan Allah swt yang singkat setelah menerangkan dan menjelaskan dalam ayat-ayat yang lain berbagai jalan-jalan yang terdapat di kehidupan kita.

Kitalah yang akan memilih jalan mana yang akan kita tempuh dan kita lalui, apakah kita akan memilih jalan diberikan oleh Allah swt nikmat yang besar, sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

صراط الذین انعمت علیهم

Ataukah kita akan mengikuti jalan yang dimurkai oleh Allah sebagaimana yang disebutkan dalam ayat:

غير المغضوب عليهم و لا الضآلین

Karena itulah Imam Az-Zujaj dalam Al-Lubab mengenai ayat ini pernah berkata:

أي طريق تسلكون أبين من هذه الطريقة التي بيَّنت لكم

“Maksud ayat ini adalah jalan mana yang akan kita tempuh dari sekian banyaknya jalan yang telah Allah jelaskan kepada kita”

Setelah kita merenungi ayat ini, maka tugas kita selanjutnya adalah menemukan jalan mana yang Allah swt terangkan dalam ayat-ayatNya untuk kita lalui di dunia ini. Ketika Allah swt bertanya tentu Allah telah menerangkan sebelumnya ada berapa banyak jalan yang terdapat di hadapan manusia.
Diantara Jawaban itu terdapat dalam surat Ali Imran ayat 51 yang berbunyi:

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ

Sesungguhnya Allah itu adalah Tuhanku dan Tuhanmu, maka sembah dan ta’atlah kepadaNya, sesungguhnya inilah jalan yang lurus” (Qs. Ali Imran: 51)

Ada beberapa catatan yang terdapat dalam ayat ini, pertama adalah bentuk penegasan bahwa hanyalah Allah swt sebagai Tuhan di alam semesta ini,

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ

Imam Ar-Razi dalam tafsirnya menerangkan bahwa ayat ini adalah bentuk “I’tiraf” atau bentuk pengakuan, dengan kata lain apapun latar belakang seseorang, standar kebenaran di alam semesta ini adalah jika seseorang itu memilih jalan yang mengakui keesaan Allah swt sebagai Tuhan.

Catatan kedua dari ayat ini adalah dimensi sosial dimana sangat ditekankan sikap kebersamaan dan kekeluargaan dalam keta’atan kepada Allah swt dalam Islam, karena Allah menyebutkan ayat ini dengan dhamir mutakallim wahdah dan Dhamir Jama’ mukhotob, artinya bentuk pengakuan yang terkait diri sendiri, namun tidak cukup dengan itu tapi juga terkait dengan orang banyak baik laki-laki maupun perempuan.

Kebersamaan inilah yang sangat ditekankan dalam Islam, Islam tidak ingin kita sendirian dalam kebenaran, karena Islam adalah agama yang universal, rahmatan lil alamin, menjadi rahmat bagi alam semesta, karena itulah ketika Allah swt berfirman:

إِنَّ اللهَ رَبِّي وَ رَبُّكُمْ فَاعْبُدُوهُ هذا صِراطٌ مُسْتَقيمٌ

Maksudnya adalah Islam menginginkan semua manusia bersama-sama berada pada jalan yang lurus

Namun dalam berbagai keadaan, terkadang kita keliru untuk menerapkan kebersamaan dalam kebenaran, sebagian kita malah bergunjing atas kesalahan orang lain, sebagian kita malah berdebat dengan orang lain yang justru menjauhkan dari kebenaran itu, sebagian kita ada yang memaksa orang lain dengan kebenaran yang ada pada kita, bahkan sebagian dari kaum muslimin rela membunuh saudaranya dengan sadis karena tidak mau mengikuti kebersamaan dalam kebenaran yang ia miliki.
Apakah ini adalah cara yang dibenarkan dalam Islam? Bagaimana Islam mengajarkan cara mengajak kepada kebersamaan dalam kebenaran?

Dialog yang baik, santun dan saling menjaga antara satu sama lain adalah kunci yang diajarkan Rasulullah saw kepada kita dalam mengajarkan kebenaran dalam kebersamaan, Rasulullah tidak pernah mengajarkan cara-cara kekerasan dalam mengajak kepada kebenaran, karena cara-cara kekerasan malah bukan saja menjauhkan seseorang kepada kebenaran, bahkan bisa membuat seseorang benci kepada kebenaran.

Kita dapat melihat misalnya dalam Al-Qur’an disebutkan bagaimana Rasulullah berdialog dengan orang-orang musyrikin mekah, kita bersama tahu, bahwa orang-orang musyrik adalah orang-orang yang menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan mereka, yang dalam Islam tidak ada dosa yang paling besar selain dari menyekutukan Allah dengan berhala, namun bagaimana sikap Rasulullah di akhir dari perdebatan dengan mereka, Rasulullah tidak secara langsung mendakwa bahwa mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata, walaupun kebenaran berada pada pihak Rasulullah, namun dengan santun beliau berkata sebagaimana firman Allah:

وَ إِنَّا أَوْ إِيَّاكُمْ لَعَلى هُدىً أَوْ في ضَلالٍ مُبينٍ.

"…Dan sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata.” (Qs. Saba' [34]: 24).

Mengapa ini beliau lakukan? Tidak lain karena potensi hidayah ada pada setiap orang, dan kita hanyalah berkewajiban sebagai penyampai kebenaran kepada mereka secara wajar, Inilah akhlak Rasulullah yang patut kita tiru, Akhlak Rasulullah yang menjadi teladan bagi kita semua, karena Allah swt memang berfirman:

لَقَدْ كانَ لَكُمْ في رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كانَ يَرْجُوا اللهَ وَ الْيَوْمَ الْآخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثيراً

Sesungguhnya pada (diri) Rasulullah itu terdapat suri teladan yang baik bagimu; (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Qs. Al-Ahzab 21).

Jika demikian akhlak yang diajarkan Rasulullah saw, maka bagaimana kita dapat membenarkan tindakan sebagian orang yang mengatasnamakan Islam memaksakan kebenaran Islam kepada orang lain dengan cara-cara kekerasan?. Wallahu’alam.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan komentar konstruktif dengan bahasa yang sopan dan bijak, terimakasih